KATA PENGANTAR
Puji syukur selalu
terpanjatkan kehadiran allah SWT,
dan semoga sholawat serta salam selalu
terucap kepada Rasul Muhammad SAW.
Makalah ini berjudul “Pengaruh
Pemikiran Filsafat Terhadap Pola Pikir Dan Pola Hidup Manusia di Era
Globalisasi”, Alhamdulilah telah selesai digarap. Makalah ini guna
memenuhi tugas kuliah, Filsafat umum dimana tugas ini memeberikan pengetahuan
tentang peran filsafat dalam mempengaruhi keilmuan dan kehidupan manusia. Penulis
berharap bahwa makalah ini dapat memberi
manfaat bagi para pembaca.
Terima kasih atas saran dan kritik yang anda berikan, kami minta
ma’af apabila ada salah penulisan atau
salah kata, semoga makalah ini dapat membawa manfa’at bagi kita semua. Amin.
Penyusun
DAFTAR ISI
Cover................................................................................................................
Kata Pengantar................................................................................................ i
Daftar Isi........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Masalah................................................................ iii
B.
Rumusan
Masalah......................................................................... iii
C.
Tujuan
Penulisan........................................................................... iv
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengetahuan
Dan Teknologi Dewasa Ini....................................... 1
B.
Peran filsafat Terhadap Pola Fikir Dan Pola Hidup Manusia........ 2
C.
Dekadensi
Moral Sebagai Pengaruh Negatif Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi 4
D.
Perisai dalam Wujud
Tanggung Jawab Etis Ilmuwan.................... 5
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................... 11
B. Saran ............................................................................................ 11
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Kenyataan adanya kemajuan yang sangat pesat dalam ilmu pengetahuan
dan teknologi di satu pihak yang memberi kemudahan kepada umat manusia untuk
menjalani kehidupannya. Menurut Abbas Hamami dan Koento Wibisono, pada saat pembangunan sedang digalakkan
dengan dukungan ilmu pengengetahuan Filsafat sebagai Perisai untuk mewujudkan
suatu masyarakat yang ideal, yakni masyarakat yang damai, sejahtera, adil dan
makmur, baik materi lmaupun spritual, maka di saat itu pula berbagai masalah
mendasar atau fundamental muncul yang harus dihadapi oleh umat manusia dalam
hidup dan kehidupannya sebagai pengaruh negatif dari perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi tadi[1].
Berbagai masalah dimaksud adalah alienasi, anomi, kehidupan yang
tidak lagi utuh karena semakin bercerai-berainya nilai-nilai cipta, rasa dan
karsa, kemeralatan dan kemiskinan, keresahan akan kemungkinan munculnya perang
dunia, semakin terbatasnya sumber-sumber kekayaan alam justru di kala penduduk
dunia semakin membesar jumlahnya. Masalah-masalah tadi idak hanya berujung kepada penderitaan
manusia secara fisik namun juga berakibat kepada menurunnya atau bahkan
hancurnya nilai-nilai moral.
Dengan kata lain telah terjadi dekadensi moral. Dan ketika hal ini
telah terlanjur terjadi, maka kita tidak bisa hanya diam berpangku tangan dan
menyesali apa yang telah terjadi. Banyak hal yang dapat dilakukan. Banyak pula
sarana yang dapat dilalui dan dipakai misalnya pendidikan, agama maupun
filsafat.
Dimulai
dengan pertanyaan Khusus sarana terakhir inilah yakni filsafat yang akan
penulis telaah lebih jauh.: bagaimana peran filsafat dalam menghadapi dekadensi
moral.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
pengetahuan dan teknologi dewasa ini?
2.
Peran
filsafat dalam mempengaruhi pola pikir dan pola hidup manusia dewasa ini?
3.
Bagaimana
dekadensi moral sebagai pengaruh negatif perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi ?
4.
Bagaimana filsafat
sebagai perisai dalam wujud tanggung jawab etis ilmuwan ?
C. TUJUAN
1.
Mengetahui
peran filsafat dalam kemajuan iptek terhadap pola pikir dan pola hidup manusia
dewasa ini
2.
Mengetahui
Dekandesi moral terhadap perkembangan iptek
3.
Mengetahui
bagaimana tanggungjawab ilmuan dalam hal ini
4.
Memenuhi
tugas mata kuliyah Filsafat Umum
PEMBAHASAN
A.
Pengetahuan Dan
Teknologi Dewasa Ini
Ilmu pengetahuan dan teknologi dapat dimanfaatkan oleh manusia
secara positif-konstruktif maupun secara negatif-destruktif tergantung kepada
moral dan mental manusia yang berperan sebagai pencipta, pengembang, dan
penggunanya. ilmu pengetahuan dan teknologi selalu terkait dengan pemilik dan
pemakainya yakni manusia yang seringkali tidak mampu untuk mengendalikan nafsu
serakahnya sendiri dalam artian moral.Manusia dalam kehidupannya sangat
tergantung dan berhutang budi kepada ilmu pengetahuan dan teknologi.[2]
Merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri bahwa peradaban
manusia yang berkembang dari peradaban sederhana menuju ke peradaban yang
sangat maju dipengaruhi oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Berkat kemajuan pada kedua bidang inilah, maka manusia menjadi sangat dimudahkan
dalam menjalankan kehidupannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi telah membantu
manusia untuk memenuhi segala kebutuhannya secara lebih cepat dan lebih mudah.
Umat manusia, misalnya, dimudahkan karena ditemukannya
alat-alatkedokteran yang canggih sehingga penyakit kita lebih mudah dideteksi
dan usia harapan hidup menjadi semakin panjang, alat-alat transportasi yang
lebih cepat dan aman, alat-alat komunikasi yang begitu sophisticated yang
membuat dunia terasa semakin sempit. Manusia juga dimudahkan untuk memanfaatkan
segala sumber daya alam untuk mencapai kesejahteraan hidupnya.
B. PERAN
FILSAFAT TERHADAP POLA PIKIR DAN POLA HIDUP MANUSIA
Banyak orang yang sering kali mengeluarkan pendapat, bahkan dengan
sedikit nada sinis, mempertanyakan apa fungsi atau perannya filsafat bagi
keilmuan dan kehidupan. Pertanyaan itu merupakan pertanyaan yang wajar dan
tidak salah. Karena selama seseorang belum mengenal filsafat (suatu cabang ilmu
pengetahuan yang cenderung tidak terlalu aplikatif dan cenderung kepada kontemplasi
atau perenungan kritis), maka ia tidak akan mungkin mampu untuk memahaminya
dengan baik.
Irmayanti M Budianto pernah mencatat beberapa peran filsafat, baik
dalam kehidupan maupun dalam bidang keilmuan:
pertama, filsafat atau berfilsafat mengajak manusia bersikap arif
dan berwawasan luas terdapat berbagai masalah yang dihadapinya, dan manusia
diharapkan mampu untuk memecahkan masalah-masalah tersebut dengan cara
mengidentifikasinya agar jawaban-jawaban dapat diperoleh dengan mudah.
Kedua, berfilsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang
secara lebih kreatif atas dasar pandangan hidup dan atau ide-ide yang muncul
karena keinginannya.
Ketiga, Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam
menghadapi permasalahan, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam
kehidupan lainnya (interaksi dengan masyarakat, komunitas, agama, dan
lain-lain) secara lebih rasional, lebih arif, dan tidak terjebak dalam
fanatisme yang berlebihan.
Keempat, terutama bagi para ilmuwan ataupun para mahasiswa
dibutuhkan kemampuan untuk menganalisis, analisis kritis secara komprehensif
dan sistematis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan di dalam suatu
riset, penelitian, ataupun kajian ilmiah lainnya. Dalam era globalisasi, ketika
berbagai kajian lintas ilmu pengetahuan atau multidisiplin melanda dalam
kegiatan ilmiah, diperlukan adanya suatu wadah, yaitu sikap kritis dalam
menghadapi kemajemukan berpikir dari berbagai ilmu pengetahuan berikut para
ilmuannya.[3]
Dalam pandangan Hamami dan Wibisono (1986: 126-27), filsafatmelalui
metode-metode pemikirannya tidak akan dapat langsung mempersembahkan
programe-programme kebijakan yang manfaatnya dapat dinikmati secara praktis dan
konkret sebagaimana halnya dengan ekonomi, teknik dan ilmu-ilmu terapan yang lainnya.
Segi kelemahan filsafat, dalam arti sifat dan coraknya yang abstrak dengan
lemparan analisis-analisis kritisnya yang sering tidak tersentuh oleh mereka
yang telah terbiasa untuk berpikir secara praktis, merupakan salah satu sebab
mengapa para ahli filsafat terisolir dan jarang diajak untuk berpartisipasi
dalam penentuan strategi pembangunan, apalagi dalam pelaksanaan programme-
programme kegiatan yang sudah bersifat teknis operasional.
Padahal keabstrakan dengan spekulasi-spekulasinya yang paling dalam
justru membawa filsafat kepada kekuatan radikalnya. Dengan berpikir secara
abstrak spekulatif dan mengambil jarak dari penggumulan masalah-masalah teknis
praktis, filsafat justru dapat melihat sesuatu permasalahan dari semua dimensi,
sehingga hal-hal yang belum tersentuh oleh ilmu-ilmu lain dapat pula dijadikan
titik perhatiannya. Peranan filsafat adalah menunjukkan adanya perspektif yang
lebih dalam dan luas, sehingga kehadirannya akan disertai dengan berbagai
alternatif penyelesaian untuk ditawarkan mana yang paling sesuai dengan
perubahan waktu dan keadaan.[4]
Apabila kita berbicara mengenai peran filsafat dalam menghadapi
dekadensi moral. Filsafat mungkin hanya dapat menjelaskan sebab-sebab munculnya
dekadensi moral, menjelaskan caracara mengatasi sebab-sebab tersebut,
menerangkan cara-cara penanganan dekadensi moral. Sementara pelaksanaannya
sendiri sangat tergantung kepada manusianya sendiri.
C. Dekadensi
Moral Sebagai Pengaruh Negatif Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
Perkembangan ilmu pengetahuan sering kali melupakan faktor
manusianya, di mana bukan lagi teknologi yang berkembang seiring dengan
perkembangan dan kebutuhan manusia, namun juga justru sebaliknya dimana
manusialah akhirnya yang harus menyesuaikan diri dengan teknologi. Teknologi
tidak lagi berfungsi sebagai sarana yang memberikan kemudahan bagi kehidupan
manusia melainkan dia berada untuk tujuan eksistensinya sendiri. Sesuatu yang
terkadang harus dibayar mahal oleh manusia yang kehilangan sebagian arti dari
kemanusiaannya. Manusia sering dihadapkan dengan situasi yang tidak bersifat
manusiawi, terpenjara dalam kisi-kisi teknologi, yang merampas kemanusiaandan
kebahagiaannya.[5]
Padahal ilmu pengetahuan dan
teknologi sebenarnya bertujuan untuk mempermudah manusia dalam menjalani
kehidupannya, namun kelihatannya yang terjadi malah berbeda. Manusia kesulitan
untuk meletakkan ilmu pengetahuan dan teknologi pada jalur tujuannya dengan
benar. Manusia kelihatan bukan lagi pemilik dan pengguna ilmu pengetahuan dan
teknologi, tapi hamba dari keduanya. Dewasa ini, ilmu pengetahuan bahkan telah
berada di ambang kemajuan yang mampu untuk mempengaruhi reproduksi dan
penciptaan manusia itu sendiri.
Ilmu pengetahuan bukan saja menimbulkan gejala dehumanisasi
namun bahkan kemungkinan untuk mengubah hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau
dengan kata lain, ilmu pengetahuan bukan lagi merupakan sarana yang membantu
manusia untuk mencapai tujuan hidupnya, namun bahkan kemungkinan untuk mengubah
hakikat kemanusiaan itu sendiri, atau dengan perkataan lain, ilmu pengetahuan
bukan lagi merupakan sarana yang membantu manusia mencapai tujuan hidupnya,
melainkan juga ikut menciptakan tujuan hidup itu sendiri.[6]
Menghadapi kenyataan seperti ini, menurut Suriasumantri, ilmu
pengetahuan yang pada hakikatnya mempelajari alam sebagaimana adanya mulai
mempertanyakan hal-hal yang bersifat seharusnya: Untuk apa sebenarnya ilmu
pengetahuan itu harus dipergunakan? Di mana batas wewenang penjelajahan
keilmuan? Ke arah mana perkembangan keilmuan harus diarahkan? Pertanyaan
semacam ini jelas tidak merupakan urgensi bagi ilmuwan-ilmuwan masa lalu, namun
menjadi penting bagi para ilmuwan yang hidup pada masa kini. Dan untuk menjawab
pertanyaan ini, maka ilmuwan berpaling kepada hakikat moral. [7]
D. Perisai dalam Wujud Tanggung Jawab
Etis Ilmuwan
Ilmuwan Bintarto pernah
menuturkan sebuah kutipan yang diambilnya dari Ensiklopedi Indonesia terbitan
PT Ichtiar Baru Van Hoeve bahwa ‘intisari dari filsafat adalah cara berfikir
menurut logika dengan bebas sedalam-dalamnya sampai ke dasar persoalannya’.
Sementara itu, manusia terdorong untuk menemukan suatu orientasi hidup yang
dapat memberikan arah dan pegangan bagi perbuatan serta perilakunya. Orientasi
ini adalah filsafat dalam bentuknya yang masih pra-ilmiah.[8]
Filsafat bersifat universal karena objek kajiannya berkaitan erat
dengan seluruh kenyataan (realitas). Dengan kata lain, pandangan filsafat
terhadap segala sesuatu ditempatkan pada latar belakang arti seluruh realitas
manusia. Apabila disesuaikan dengan objek kajiannya, maka filsafat dapat
meliputi beberapa cabang, seperti filsafat manusia, filsafat pengetahuan,
filsafat ketuhanan, dan sebagainya.[9]
Ketika masalah dekadensi moral yang menjadi objek kajian dalam
filsafat, maka cabang filsafatnya adalah filsafat moral atau etika. Selain itu,
karena dekandensi moral sendiri dalam tulisan ini ditelisik sebagai pengaruh
negatif dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka cabang filsafat
lainnya yang terkait filsafat ilmu pengetahuan, terutama bagian aksiologinya.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan hasil karya ilmuwan secara
individual yang kemudian disosialisasikan kepada masyarakat. Peranan ilmuwan
inilah yang menonjol dalam kemajuan ilmu pengetahuan dan mampu mengubah wajah
peradaban. Kreativitas ilmuwan yang didukung oleh sistem komunikasi sosial yang
bersifat terbuka menjadi proses pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang berjalan sangat efektif .
Dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka seorang
ilmuwan harus memiliki kepekaan dan tanggung jawab besar terhadap pelbagai
konsekuensi etis ilmu pengetahuan dan teknologinya. Sebab dialah satusatunya
orang yang dapat mengikuti dari dekat perkembanganperkembangan yang konkret.
Namun memang seorang ilmuwan sebenarnya tidak dapat berbuat banyak untuk
mencegah penyalahgunaan hasil penemuannya. Manusia tampaknya tetap cenderung
untuk menciptakan pedang yang bermata dua, yaitu satu dipakai untuk
meningkatkan kesejahteraan, mata yang lain dipakai untuk mendatangkan
kerusakan.
Tanggung jawab etis bukanlah berkeinginan untuk mencampuri atau bahkan
‘menghancurkan’ otonomi ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi bahkan dapat
sebagai umpan balik bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi itu
sendiri, yang sekaligus akan lebih memperkukuh eksistensi manusia.[10]
Tanggung jawab etis yang dipikul seorang ilmuwan bukan saja karena dia
adalah anggota masyarakat yang kepentingannya terlibat secara langsung di
masyarakat namun yang lebih penting adalah karena dia mempunyai fungsi tertentu
dalam kelangsungan hidup bermasyarakat. Fungsinya selaku ilmuwan tidak berhenti
pada penelaahan dan keilmuan secara individual namun juga ikut bertanggung
jawab agar produk keilmuan sampai dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat.
Untuk membahas ruang lingkup yang menjadi tanggung jawab etis
seorang ilmuwan, maka hal ini dapat dikembalikan kepada hakikat ilmu
pengetahuan itu sendiri. Sering terdengar bahwa ilmu pengetahuan beserta
teknologinya itu terbebas dari sistem nilai. Ilmu pengetahuan dan teknologi itu
sendiri netral dan para ilmuwanlah yang memberikan nilai. Dalam hal ini maka
masalah apakah ilmu pengetahuan dan teknologi itu terikat atau bebas dari
nilai-nilai tertentu, semua itu tergantung kepada langkah-langkah keilmuan yang
bersangkutan dan bukan kepada proses keilmuan secara keseluruhan.[11]
Bebas nilai dalam ilmu pengetahuan merupakan suatu masalah yang
melibatkan persoalan filosofis, yakni aksiologi (nilai/value). Nilai
yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan pelbagai
pertimbangan mengenai apa yang dinilai dan apa yang seharusnya dinilai. Nilai
dalam pengertian ini adalah suatu penilaian yang dilakukan oleh ilmuwan dalam
kegiatan ilmiahnya. Penilaian dapat muncul dari orang lain, lembaga pendidikan,
agama, dan juga dari dalam diri ilmuwan sendiri terhadap apa yang telah
dihasilkannya. Bebas nilaikah atau tidak bebas nilaikah kegiatan ilmiah yang
telah dihasilkan seorang ilmuwan?
Selama ia masih berada dalam ruang kerja ilmiahnya (seperti
laboratorium), maka ia masih merasakan adanya bebas nilai. Ia tetap dapat
memusatkan perhatian pada kegiatan ilmiahnya tanpa memperoleh halangan dari
berbagai unsur luar. Namun, apabila telah keluar dari ruang kerja ilmiahnya
kedalam masyarakat, maka hasil kerjanya berupa ilmu dan teknologi akan diuji
oleh pandangan-pandangan masyarakat, lembaga, atau pun agama. Hasil kerjanya
diuji apakah telah sesuai dengan peraturan pemerintah, norma adat, dan
sebagainya. Ilmuwan dengan hasil karya ilmiah menjadi tidak bebas nilai.
Sebagai contoh menarikadalah masalah kloning terhadap manusia.
Ketika ilmuwan berada dalam ruang kerjanya, ia mungkin mampu bekerja secara
idealis tanpa sesuatu nilai pun yang akan mengaturnya. Akan tetapi, apabila
hasil kerjanya disosialisasikan, maka akan terjadi kegemparan. Akan terjadi pro
dan kontra. Hasil kerja ilmiah tersebut akan berhadapan banyak nilai yang ada
dalam masyarakat. Kloning manusia akan dipandang sebagai kegiatan yang bukan
saja mengarah kepada dekadensi moral, namun juga dehumanisasi.
Pada masalah seperti di atas, maka peranan ilmuwan menjadi sesuatu
yang imperatif. Dialah yang mempunyai latar belakang pengetahuan yang cukup
untuk dapat menempatkan masalah tersebut pada proporsi yang sebenarnya. Oleh
sebab itu, dia mempunyai kewajiban untuk menyampaikan hal itu kepada masyarakat
banyak dalam bahasa yang dapat mereka cerna. Menghadapi masalah yang kurang
mereka mengerti biasanya masyarakat bersikap ekstrim. Pada satu pihak mereka
bisu karena ketidaktahuan mereka, sedangkan di pihak lain mereka bersikap
radikal dan irasional. Tanggung jawab seorang ilmuwan dalam hal ini adalah
memberikan perspektif yang benar: untung dan ruginya, baik dan buruknya;
sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan (Suriasumantri, 1998:
239-241).
Pada bidang lain mungkin terjadi bahwa masalah itu baru akan timbul
yang disebabkan proses yang sekarang sedang berjalan. Ilmuwan berdasarkan
pengetahuannya memiliki kemampuan untuk meramalkan apa yang akan terjadi.
Umpamanya saja apakah yang akan terjadi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi
kita di masa depan berdasarkan proses pendidikan keilmuan sekarang. Apakah
sistem pendidikan kita memungkinkan negara kita mengejar keterbelakangan di
bidang ilmu pengetahuan dan teknologi di masa yang akan datang? Sekiranya tidak
maka apakah yang harus kita lakukan? Kerugian apakah yang akan timbul sekiranya
tindakan pencegahan tidak dilakukan? Demikianlah
pertanyaan yang serupa dapat dikemukakan dalam berbagai bidang.
Kemampuan analisis seorang ilmuwan mungkin pula menemukan
alternatif dari objek permasalah yang sedang menjadi pusat perhatian. Kemampuan
analisis seorang ilmuwan dapat dipergunakan untuk mengubah kegiatan
non-produktif menjadi kegiatan produktif yang bermanfaat bagi masyarakat banyak
(Suriasumantri, 1998: 241).
Penelitian Penerapan di masyarakat Nilai-nilai: adat istiadat,
agama, ideolgi Hasil penelitian Tidak bebas nilai Hasil Bebas nilai Teoritis
penelitianSingkatnya, dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat mempengaruhi opini masyarakat
terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari. Dalam hal ini, berbeda
dengan menghadapi masyarakat ilmuwan yang elitis, dia harus berbicara dengan
bahasa yang dapat dicerna oleh orang awam. Untuk itu maka dia bukan saja
mengandalkan pengetahuannya dan daya analisisnya namun juga integritas
kepribadiannya.
Sebuah kutipan menarik dalam buku Pengantar Filsafat karya Louis O
Kattsoff. Dalam bahasa analogis, Kattsof (2004: 3) menjelaskan bahwa meskipun
filsafat ‘tidak membuat roti’, namun filsafat dapat menyiapkan tungkunya,
menyisihkan noda-noda dari tepungnya, menambah jumlah bumbunya secara layak,
dan mengangkat roti itu dari tungkunya pada waktu yang tepat. Filsafat berperan
untuk mengumpulkan pengetahuan manusia sebanyak mungkin, dan menerbitkan serta
mengatur semua itu di dalam bentuk yang sistematis. Filsafat membawa manusia
kepada pemahaman, dan pemahaman membawa manusia kepada tindakan yang lebih
layak.
Suatu kenyataan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi telah banyak
berjasa untuk membantu manusia dalam kehidupan kesehariannya. Akan tetapi,
adalah suatu kenyataan yang tidak dapat diabaikan begitusaja pula adanya
pengaruh negatif dari keduanya berupa menurunnya atau bahkan nilai-nilai moral.
Dengan kata lain, ilmu pengetahuan dan teknologi juga berpengaruh
negatif pada terjadinya dekadensi moral. Pengaruh negatif yang muncul dari
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak seharusnya membuat manusia
pesimis bahkan menyerah terhadap perkembangan tersebut. Manusia tidak
seharusnya hanya mengekor kepada ilmu pengetahuan dan teknologi dan menjadi
budak
keduanya. Ilmu pengetahuan dan teknologilah yang seharusnya berada
di tangan manusia atau berada di bawah kendali manusia. Kemampuan berpikir dan
berimajinasi manusia dalam wujud ilmu pengetahuan dan teknologi tidak dapat
dihentikan, dibendung, atau dimatikan, namun barangkali dapat dikontrol agar
tidak kebablasan. Manusia harus bertanggung jawab terhadap apa yang telah
diperbuatnya. Tanggung jawab bukan saja dalam arti normatif, namun juga dalam
arti kedudukan manusia itu di antara manusia-manusia lain. Berbicara mengenai
tanggung jawab secara tidak langsung berbicara mengenai manusia yang
mempraktikkannya, menerapkan, dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi
itu. Jari telunjuk kita dengan mudah menunjuk kepada oknum yang terkait
langsung dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, yakni para
ilmuwan. Para ilmuwan memang memiliki
tanggung jawab etis untuk mengarahkan agar perjalanan ilmu pengetahuan dan
teknologi tetap pada ‘orbitnya’. Mereka harus berusaha untuk menemukan suatu
orientasi hidup yang dapat memberikan arah dan pegangan bagi perbuatan serta
perilaku dirinya pribadi dan masyarakat kebanyakan.
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
filsafat atau berfilsafat mengajak manusia
bersikap arif dan berwawasan luas terdapat berbagai masalah yang dihadapinya,
dan manusia diharapkan mampu untuk memecahkan masalah-masalah. berfilsafat
dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas dasar
pandangan hidup dan atau ide-ide yang muncul karena keinginannya. , Filsafat
dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan, baik
dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam kehidupan lainnya (interaksi dengan
masyarakat, komunitas, agama, dan lain-lain) secara lebih rasional, lebih arif,
dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan. Terutama bagi para ilmuwan
ataupun para mahasiswa dibutuhkan kemampuan untuk menganalisis, analisis kritis
secara komprehensif dan sistematis atas berbagai permasalahan ilmiah yang
dituangkan di dalam suatu riset, penelitian, ataupun kajian ilmiah lainnya.
B.
SARAN
Makalah
ini sebaiknya di pelajari dan dipahami agar kiata mengetahui peran filsafat
dalam kaitanya dengan pola pikir dan pola hidup pada zaman globalisasi dan kita
senantiasa dapat memanfaatkan peran dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan
teknologi informasi dewasa ini. Dalam makalah ini diakui belum sempurna. Oleh
karenaya kritik dan saran kami haturkan agar makalah ini dapat lebih baik dan
kami dapat menevaluasi dalam ranah perbaikan.
.
Bintarto,
R.1994. Ekologi Manusia IL-614: Hand Out Kuliah Ekologi Manusia untuk S2 Ilmu
Lingkungan. Yogyakarta: Programme Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta.
Budianto,
Irmayanti M 2002. Realitas dan Objektivitas: Refleksi Kritis atas Cara Kerja
Ilmiah. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.
Gensler,
Harry J 1998. Ethics: A Contemporary Introduction. London and NewYork.
, Abbas dan Koento Wibisono. 1986. “Peran
Filsafat dalam Wawasan Lingkungan” dalam Tugas Filsafat dalam Perkembangan
Budaya. Slamet Sutrisno (ed.). Yogyakarta: Liberty.
Kattsof,
Louis O 2004. Elements of Philosophy atau Pengantar Filsafat, Soejono
Soemargono (penerjemah). Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
Suriasumantri,
Jujun S 1998. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan.
Zubair,
Achmad Charris. 2002. Dimensi Etik dan Asketik Ilmu Pengetahuan Manusia: Kajian
Filsafat Ilmu. Yogyakarta: LESFI
![]() |
[1] Abbas Hamami dan Koento Wibisono. 1986. “Peran Filsafat dalam Wawasan
Lingkungan” dalam Tugas Filsafat dalam Perkembangan Budaya. Slamet Sutrisno
(ed.). Yogyakarta: Liberty.halm. 123-124
[2] Bintarto, R.1994.
Ekologi Manusia IL-614: Hand Out Kuliah Ekologi Manusia untuk S2 Ilmu
Lingkungan. Yogyakarta: Programme Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.Hlm.
39
[3] Irmayanti M Budianto, 2002. Realitas dan Objektivitas: Refleksi
Kritis atas Cara Kerja Ilmiah. Jakarta: Wedatama Widya Sastra.halm. 15-16.
[4] Abbas Hamami dan Koento Wibisono. 1986. “Peran Filsafat dalam Wawasan
Lingkungan” dalam Tugas Filsafat dalam Perkembangan Budaya. Slamet Sutrisno
(ed.). Yogyakarta: Liberty.halm. 127
[5] Jujun Suriasumantri, S 1998.
Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Hlm. 229-231
[7] Jujun Suriasumantri, S 1998. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar
Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan. Hlm. 231-232
[8] Bintarto,
R 1994. Ekologi Manusia IL-614: Hand Out Kuliah Ekologi Manusia untuk S2
Ilmu Lingkungan. Yogyakarta: Programme Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta.hlm. 40
[9] Ibid,hlm.40
Manusia: Kajian Filsafat Ilmu. Yogyakarta:
LESFI.hlm. 49-50
[11] Jujun S
Suriasumantri, 1998. Filsafat Ilmu:
Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.hlm. 239
Dipostkan oleh : Misbakhus Sholihin


1 komentar:
Oakley Titanium Glass Rings - Titsanium Arts
› en-academic hypoallergenic titanium earrings › Oakley-Ti › en-academic › Oakley-Ti Oakley Titanium Glass Rings. The original ring ford titanium of titanium which was the cornerstone for the British trekz titanium Imperial Guard's Imperial War. Oakley micro touch hair trimmer was the first to ceramic or titanium flat iron